Berapa kali kamu merekam momen liburan pakai smartphone atau kamera canggih, tapi pas ditonton ulang rasanya... B aja? Kayak ada yang kurang, nggak cinematic, dan nggak ada kesan "Epic"-nya sama sekali.
Rahasia video cinematic ala film layar lebar itu bukan cuma di alat yang mahal atau color grading yang ribet. Kunci utamanya ada di Framing dan Komposisi. Cara kamu meletakkan subjek di dalam layar adalah cara kamu mengendalikan mata penonton.
Sini, tim Berkah Abadi Studio kasih bocoran trik komposisi video yang bakal bikin footage kamu naik kelas!
1. Haramkan Subjek Selalu di Tengah (Rule of Thirds) Kebiasaan pemula: kalau rekam orang ngomong, pasti wajahnya ditaruh persis di tengah-tengah layar (kayak lagi foto KTP). Bikin penonton cepat bosan! Coba nyalakan fitur Grid (garis bantu 3x3) di layar kamera kamu. Taruh mata subjekmu di titik pertemuan garis-garis tersebut (bisa agak ke kiri atau agak ke kanan). Ini ngasih "ruang napas" (looking room) di depan wajah subjek, bikin video terlihat jauh lebih natural dan profesional.
2. Mainkan Dimensi: Jangan Bikin Video yang "Rata" Layar itu bentuknya dua dimensi (2D). Tugas kamu sebagai videographer adalah menciptakan ilusi 3D alias kedalaman (depth). Caranya? Gunakan Foreground. Jangan cuma rekam teman kamu duduk di kafe secara langsung. Coba posisikan kamera agak menyelinap di balik tanaman, gelas kopi, atau pundak orang lain, baru fokuskan ke teman kamu. Benda yang blur di depan lensa (foreground) itu bakal ngasih kesan kalau dunia di dalam video kamu itu luas dan punya dimensi.
3. Manfaatkan "Leading Lines" (Garis Penuntun) Layar video itu penuh dengan garis yang nggak kita sadari. Ada garis pagar, garis trotoar, tembok lorong, atau barisan pohon. Daripada merekam secara lurus dan menabrak tembok, coba posisikan kameramu sedemikian rupa sehingga garis-garis tersebut "menunjuk" langsung ke arah subjek utamamu. Otak penonton secara otomatis akan mengikuti garis tersebut dan langsung fokus ke poin utama cerita kamu tanpa harus disuruh.
4. Sudut Pengambilan (Angle) Menentukan Emosi Kamu rekam video dari bawah ke atas (Low Angle)? Subjek kamu bakal kelihatan dominan, kuat, dan gagah (cocok buat video bos perusahaan atau mobil sport). Kamu rekam dari atas ke bawah (High Angle)? Subjek kamu bakal kelihatan kecil, sendirian, atau lemah. Jadi, jangan malas jongkok atau manjat kursi! Berhenti merekam semuanya dari ketinggian mata kamu aja (eye-level). Cari sudut ekstrem buat nyampein emosi yang beda.
5. Gerakkan Kamera Karena Ada "Alasan" Ini dosa besar videografer pemula: menggerakkan kamera terus-menerus tanpa arah. Ke kiri, ke kanan, zoom in, zoom out, bikin penonton pusing kayak mabuk laut. Di dunia sinematografi, kamera cuma bergerak kalau ada motivasinya.
- Bergerak maju (Push In) pelan-pelan kalau subjek lagi ngomongin hal serius/sedih, seolah kita lagi mengintip rahasia.
- Bergerak mundur (Pull Out) buat nunjukin kalau subjek lagi sendirian di tempat yang luas.
- Bergerak ke samping (Tracking/Panning) untuk mengikuti subjek yang lagi berjalan. Kalau nggak ada motivasi? Pakai tripod. Static shot (kamera diam) yang komposisinya bagus itu seratus kali lebih epic daripada pergerakan kamera yang nggak jelas tujuannya.
Tips Bonus: Aturan Saklek Shutter Speed Video! Kalau di fotografi shutter speed bisa diubah sesuka hati, di video ada yang namanya 180-Degree Rule. Intinya: Shutter Speed harus selalu 2x lipat dari Frame Rate. Kalau kamu rekam di 24fps (format film), shutter speed wajib di 1/50s. Kalau rekam slow motion di 60fps, shutter speed wajib 1/120s. Kenapa? Biar efek motion blur-nya (bayangan saat tangan/subjek bergerak) terlihat natural di mata manusia, persis kayak kita nonton bioskop!



Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar